Postingan

SELF HEALING DENGAN MELUKIS DINDING MADRASAH

Gambar
  "Kita tidak akan pernah kecewa jika kita selalu mengendalikan harapan. Mau secanggih apapun orang lain memupuk pesonanya, menimbun perhatiannya, kalau kita sempurna mengendalikan hati, no problem at all." ( Tere Liye). Hari itu aku lihat dinding madrasah tempatku mengabdi tampak putih bersih di depan mata, karena notabene bangunan masih baru direnovasi untuk ruangan kelas. Betapa inginnya aku mewarnainya dengan goresan yang meski tidak sesempurna pelukis atau perupa ternama. Aku ingin memanfaatkan dinding ini selain sebagai media untuk memperindah lingkungan, aku juga ingin mengungkapkan seluruh perasaan dalam lukisan ini sebagai penyembuh atas luka, kecewa dalam menghadapi hari-hari yang penuh terpaan dan tantangan. Kadang bahagia tak terkira tiba-tiba datang menghiasi hari-hari. Kadang luka, duka, nestapa, sakit hati, kecewa tiba-tiba juga datang silih berganti ingin mendewasakan diri. Aku sadar bahwa sunnatullah terus berlaku selama manusia masih dapat menghirup udara se...

ANAKKU DALAM HARAPAN PUISI AKROSTIK

Gambar
PANDIGA SABILARROSYAD P anah asmara membidik hati sang perawan A ntara percaya dan tidak sesungguhnya hati telah terpautkan N amun tak semudah membalik telapak tangan antara harapan dan kenyataan D alam angan penuh liku berganti dengan rancaknya keindahan I ngin rasanya kupeluk kau dalam kemesraan G agahnya sang lelaki bagai dewa pujaan   A kan menyuntingku sebelum tiba saat Ramadhan   S alahkah bila aku mencintaimu bagai seorang musafir yang kehausan? A qdun nikah terucap dari lisan ayahanda dan dirimu saling bersautan B agai janji merengkuh seluruh jiwa untuk selamanya dalam kehidupan I ngin kucurahkan seluruh bakti dalam tempat syakral kerumahtanggaan L ahirlah seorang bayi lelaki buah kasih cinta penuh seribu pujaan A kan selalu kutimang dengan segenap rasa berpeluh buaian R agaku bagaikan menyatu dengannya dalam genggaman R asaku tak pernah akan menghilang selamanya hingga tak terbantahkan O h anak lelaki pertamaku jadilah pemimpin di j...

TUJUH WAKTU

Gambar
  TUJUH WAKTU  Oleh : Chaula Handayani, S.Ag Di sepanjang jalan itu.. Kususuri dengan langkah tegapku Terlihat sepi dalam pandanganku  Kutengok rumah Desa kanan kiri jadi saksi bisu Tak tampak satu rumahpun yang membuka pintu Hanya kutemui sebatang pohon sawo menyeringai melihatku Seakan mentertawakan kebodohanku Kemanakah mereka para Tuan dan para ibu?  Aaah mungkin mereka tak mau mendengar derap langkah tegapku Yang memburu waktu lekas sampai mengetuk pintu   Aku tak mau didahului rindu Setelah rinduku terkoyak nafsu Mataku menatap semu Tak kudapati sinar matamu sendu Tatapanmu nyalang meronta biru Seakan ada yang akan kau katakan padaku Sudahlah waktunya kita menepis sembilu Dalam angan kurangkai kata tak pernah ada ujung temu Ku tak pernah berharap atmamu semakin beku Yang jelas ku tak ingin kau berpaku lesu Pun tak ingin kau menyiksaku di atas amarahmu Sampailah sandyakala kembali menemuiku Terhitung hampir tujuh waktu Kau tetap membisu Kelopak mataku tak k...

DARAH GURU, BUKAN DARAH BIRU

Gambar
      DARAH GURU, BUKAN DARAH BIRU MASA KECILKU   Sungguh indah apabila kukenang masa kecilku, aku dilahirkan dari kedua orang tua yang mengawali karirnya sebagai guru. Ayahku seorang guru pada Madrasah Ibtidaiyah di kampungku. Madrasah yang berdiri di atas tanah wakaf keluarga kami. Dalam diri ayahku mengalir darah seni dan olahraga serta bakat sebagai pendidik dan penulis naskah drama. Dari beliau lahirlah lagu “ Mars Nurul Huda “ nama Madrasah kami saat itu.         Ayahku yang bertampang galak namun sungguh berhati lembut. Sampai detik ini aku tak pernah merasakan jeweran atau pukulan sebagai hukuman ketika kami menyalahi aturan. Kata – katanya   untuk menasehati kami empat bersaudara selalu beliau siapkan dengan paparan kosakata penuh makna. Kata – kata yang tersusun menjadi kalimat logis namun penuh hikmah. Kata – kata yang membuat hati kami makjleb ketika mendengarnya.Sehingga pola yang dibentuk oleh ayah kami be...